Advertisement

Selasa, 23 Agustus 2011

Balada Placement Test 3

Placement Test hampir dimulai saat seorang peserta datang dengan tergopoh-gopoh.
Mr Kaka yang hari itu bertugas membuka Placement Test bertanya kepada peserta tadi,”Program apa dan nomer  berapa?
“Nomer  48, dan programnya  Pre Grammar,mister...” jawab si anak dengan nafas yang masih memburu.
“ Ooh..itu yang di belakang,mas, yang warna nomernya  hijau,ya...” jawab Mr Kaka dengan gayanya yang formal.
 
# Hampir sejam berlalu, dan absensi pun  dimulai.. si petugas  pengurus absen akhirnya sampai ke tempat anak yang nyaris terlambat tadi.
Kata sang petugas pengabsen,”Lho kok ngerjain soal Hi Class,Mas..?Daftarnya Pre Grammar kan?
“Kata orang itu (sambil menunjuk Mr Kaka), saya disuruh mengerjakan soal yang berwarna hijau...”
“Tapi ini kan biru,mas...” jawab sang petugas pengabsen.
Mr Kaka yang merasa terlibat langsung mendatangi tempat kejadian perkara! Dan spontan mengerti permasalahannya, langsung dia bertanya,” orang madura ya Mas..?”
“Bukan. Saya orang Bawean...” protesnya singkat.
# hahahaha...
Note : bagi orang Madura dan Bawean, kata biru digunakan untuk mendiskripsikan warna biru dan hijau. Hijau disebut sebagai biru daun sedangkan Biru disebut sebagai biru langit. Namun kata daun dan langitnya seringkali direduksi sehingga kedua warna itu bernama biru!
Dan sungguh tidak menyangka bila ternyata konsep warna tersebut bermasalah dalam mengerjakan soal Placement Test. Hahahaha...

Balada Placement Test 2

Pekerjaan tim placement Test terdiri dari tiga bagian besar yakni persiapan yang dilakukan pada setiap hari sabtu sebelum Placement Test jam 16.00- selesai,  pelaksanaan yang diadakan pada hari minggu bertepatan dengan jadwal Placement Test yang dimulai jam 05.30- selesai Concelling, dan terakhir finishing yang diakhiri dengan evaluation meeting.
Pada Evaluation meeting Placement Test tanggal 6 Februari 2011 itu, Mr Kaka menceritakan tentang kisah 'buka pintu'-nya Miss Rena dengan penuh antusias.
Dan spontan kamipun tertawa mendengar kisah tak lazimtersebut,”Hua..ha..ha..ha...”
Dengan polos Miss Rena menanggapi cerita Mr Kaka dengan sedikit pembelaan diri,” Mr Kaka juga sih..kenapa bilangnya buka..harusnya bilang mulai!!Ya saya buka pintunya lah...”
Tawa kami pun kembali membahana. Kali ini bahkan lebih keras. Rena..Rena..
“Ren, memangnya kalau rena membuka kelas bilangnya gimana?” tanya saya untuk menetralisir suasana karena Miss Renanya tampak belum sepenuhnya tersadarkan.
“Let’s open our class by reciting al Fatihah together...” jawab Miss Rena tanpa dosa.
“Lha itu open artinya apa,Ren..?” tanya saya lagi.
“Mulai, Miss,” jawabnya cepat tanpa beban.
“Kenapa tidak pakai start? Kan mulai..?” tanya saya sekali lagi sambil berharap Miss Rena paham arah maksud pertanyaan saya tadi...
....
“Oiya ya Miss...memulai dan membuka itu kan bisa bermakna sama...”
Alhamdulillah...akhirnya ketua tim kami sadar juga..!
Pare, 7 Februari 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Balada Placement Test 1

Bila Placement Test adalah sebuah permen, mungkin permen Nano-nano-lah yang bisa mewakili rasanya. Ada manis,asem, dan asin. Rasa yang belum terwakili adalah rasa pahit dan sepet. Jadi bisa dibayangkan makan buah salak sekaligus pare dengan dicampur permen Nano-nano. Rasa ini bukan hanya milik peserta Placement Test tapi juga seringkali dirasakan oleh tim penyelenggara Placement test yang berbeda setiap periode tesnya.
Kisah kecil ini adalah kisah dari tim Placement Test periode 10 yang dipimpin oleh Miss Rena Yanita Sary.
Hari Minggu, 6 Februari 2011 kemarin adalah pertama kali Miss Rena bertugas untuk membuka Placement Test meski posisi beliau adalah ketua tim (ketua tim pun butuh asistensi dulu, buka?)
Jam 6 lewat 31 menit
#..telat satu menit
...lewat 32 menit
#..pintu ditutup agar peserta  yang datang  terlambat tidak masuk ruang ujian karena sudah lewat waktu.
 
Dengan gelisah, Mr KaKa yang merupakan ketua divisi Placement Test memberi arahan kepada miss Rena, “Ayo Ren,cepet buka..buka Ren...!”
Dengan wajah polos, Misss Rena pun melangkah canggung dan membuka pintu!!
#Glodakkss!!
Tanpa komando, hampir seluruh peserta tertawa..hahahaha..
Dengan wajah merah padam,  Mr Kaka berkata pelan dengan tekanan yang dalam menahan geram,” Dibuka Placement Test-nya, Nduk..!!”
“Oo..kirain buka pintu,misteer..”
Kontan hebohlah placement Test di pagi yang masih malu-malu itu...
Pare, 7 Februari 2011

Balada SMART

Berada di lingkungan SMART ILC adalah sebuah keasyikan yang tiada tara bagi saya. Selalu ada hal-hal unik dan menarik yang menyita gerak emosi. Bahkan seringkali menjadi bahan renungan dan berpikir. Senang, sedih, kaget, gulana dan berbagai ekspresi selalu tertumpah ruah tanpa jeda.  Yap, di area yang sering saya sebut sebagai zona tanpa gravitasi (No gravitation zone)  ini segala hal bisa terbolak-balik tanpa terduga, setiap waktu percikan-percikan energi bersinergi dengan seluruh luapan emosi penghuni dan lingkungannya. Inilah salah satu kisahnya:
Pagi itu di kelas Speaking level I, Mr Amy menjelaskan ttg how to give a good speech dengan penuh semangat dan ditingkahi dengan suaranya yang cempreng plus logat Makasarnya yang kental:
“Kata Bill Gates , tanpa kemampuan berbicara yang bagus, anda tidak akan sukses dalam dunia pemasaran! So, we should make our speech inspiring n powerful..”
Spontan, seorang siswa menyahut dengan keras,” Bill Gates tuh siapa mister?Istrinya Nabi Sulaiman ya..?”
Wajah Mr amy yang innocent dan penuh  semangat itu, kontan memerah.”Lho,kok istrinya Nabi Sulaiman sih?Itu kan Ratu Bilqis!” jawab Mr Amy dengan nada sewot campur geli.
“Oo..beda ya mister..?!” jawab si siswa dengan polosnya.
“Ini Bill Gates..bukan RATU BILQIS..!” ujar Mr Amy dengan gemas sambil loncat-loncat...”Ratu Bilqis zaman kapan, Bill Gates zaman kapan...!”
“Ya maaf misteer...”
# hahahaha...salam rindu selalu buat Amy...
Pare, 9 Februari 2011

Rabu, 03 Agustus 2011

Ukhuwah

Ukhuwah itu seutuhnya adalah tentang rindu...
Yang membuat selalu tak sabar untuk bertemu,
Terasa rugi bila tak berbagi.

Ini senyatanya adalah tentang hati...
Hati yang saling berikatan,
Tentang doa-doa yang saling bertaut.

Ukhuwah itu sepenuhnya adalah tentang ketulusan...
Terasa rumit untuk diungkap,
Namun nyata dalam kata sederhana

Ia terlalu dalam untuk diselami,
Karna ia adalah iman yang berlumur
Makna-makna...

Semoga Allah senantiasa
Mengikat hati-hati kita...
Saling mendoakan dan memberi semangat.

Terima kasih telah menjadi bagian dalam ukhuwah ini...
: Keluarga besar SMART International Language College

Sabtu, 30 Juli 2011

Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah...
kemampuan untuk bertahan pada rasa sakit dan putus asa
demi mewujudkan impian ideal kita
Kemerdekaan berarti...
kesanggupan untuk mencumbui rasa letih tanpa henti
Kemerdekaan berarti...
berserah diri sepenuhnya pada kerja keras dan memberikan karya terbaik
tanpa menuntut pengakuan apalagi imbalan

kemerdekaan itu mahal harganya!!



Bulan Agustus selalu disambut dengan suka cita oleh Bangsa Indonesia. Hal yang sangat umum terjadi dan sudah menjadi tradisi tahunan. Dan karena dianggap sebagai suatu tradisi inilah maka nilai-nilai Kemerdekaan seakan-akan menguap entah kemana. Terasa hampa dari tahun ke tahun.

Sayangnya, kondisi ini justru seperti diberi peluang untuk berkembang karena para guru bangsa yang seharusnya berdiri pada barisan terdepan dalam memberi suri tauladan dalam memaknai dan mencitrakan kemerdekaan secara apik sebagai momentum dan aset nasional yang luar biasa berharga malah terjebak dengan kepentingan diluar jalur kepentingan nasional.

Kepentingan dan harga diri partai seakan lebih penting dan lebih berharga dari kepentingan nasional. Hal sepele yang bisa dijadikan contoh adalah sikap ibu Megawati yang lebih suka menghadiri upacara bendera di wilayah kepartaian daripada di wilayah Istana Negara yang notabene sebagai simbol kenegaraan. Penulis memang tidak memahami konteks politik yang pasti punya pertimbangan-pertimbangan logis yang dilolohkan ke benak masyarakat. Tapi pernahkah ada pertimbangan wilayah hati nurani rakyat?

Selama 64 tahun Indonesia merdeka, Indonesia pernah dipimpin oleh enam presiden saja. Enam orang luar biasa yang berkesempatan menjadi presiden sebuah negeri elok yang bernama Indonesia. Pernahkah terbersit satu kesadaran bahwa tanggung jawab kesuritauladan bangsa akan terus melekat meski kursi kepresidenan tak lagi terduduki? Presiden ataupun mantan presiden tidak terlalu penting bagi kami, rakyat Indonesia. Bukankah suatu karya untuk bangsa itu tak berbatas profesi dan jabatan? Bukankah dalam diri setiap manusia tertatahkan tugas ke-Tuhan-an sebagai pendidik, sebagai guru?Bukankah setiap kita adalah kitab yang pasti berkemampuan memberikan butir-butir pelajaran bagi orang lain?Bukankah kepentingan negara seyogyanya diletakkan di atas kepentingan pribadi dan golongan?

Lantas pelajaran apa yang sebenarnya ingin diberikan untuk kami, rakyat Indonesia,dalam merenungi dan memaknai Hari Kemerdekaan selama ini? Bagaimana kami bisa bangga pada bangsa ini dan mengerti bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh komponen bangsa bila kami tak punya guru untuk mengajarkan bahwa nasionalisme memang ada dan bukan sekedar konsep? Bagaimana kami mampu mengenal cita rasa Indonesia bila kami tak punya pemandu yang dengan sabar melatih indra perasa kami?

Semoga seluruh komponen bangsa masih ingat bahwa rakyat Indonesia itu ada...


untuk para sahabat...
yang selalu menangis didepan saya saat berbincang tentang ke-Indonesia-an
Uun Nurcahyanti

Minggu, 30 Agustus 2009

Pendidikan Media

"Kekerasan kembali terjadi dalam dunia pendidikan.
Kali ini terjadi di SMP N 7 Pasundan, Bandung. Pelaku kekerasan adalah seorang guru agama yang bernama Rosmidah dan kekerasan terjadi di depan siswa-siswa yang tengah belajar di dalam kelas.."



Kira-kira seperti itu prolog dari seorang reporter sebuah stasiun televisi swasta tentang berita menarik yang layak disajikan beberapa waktu lalu. Kita tentu tersentak dengan prolog tersebut. Keprihatinan kita terhadap kondisi dunia pendidikan dengan segera menggumpal kembali. Kata-kata reporter tersebut tentu bagai sihir yang serta merta membuka energi pikiran negatif tentang berita yang hendak disajikan dan biasanya secara spontan membentuk sikap antipatif para pemirsa terhadap pelaku kekerasan yang bahkan belum diutarakan. Sehingga tentu saja pemirsa tak sabar menunggu cerita kekerasan yang hendak disampaikan sang reporter.

Berita tersebut berlanjut dengan sebuah informasi bahwa Guru Rosmidah tersebut menggunakan korek api untuk menunjukkan kepada siswanya bahwa api di neraka jauh lebih panas daripada api di dunia. Uniknya, untuk meyakinkan siswa-siswanya tersebut bu guru ini menggunakan api beneran yang beliau sulutkan dari korek api. Celakanya, salah seorang siswa yang menjadi sukarelawan demonstrasi ini mengalami luka bakar di bagian pipinya. Dan hal ini yang dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan oleh sang reporter.

Sebagai seorang pendidik, tentu saja penulis sempat terkejut dengan berita yang disajikan tersebut, namun begitu gambar siswa dengan luka bakar yang dialaminya tersebut ditampilkan, rasa terkejut itu sirna dan justru menimbulkan rasa prihatin yang dalam terhadap pilihan kata dan pewacanaan berita yang prolognya cukup heboh tersebut. Luka tersebut adalah luka yang tidak bisa dikatakan mewakili bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan karena masih dalam taraf yang sangat wajar, meski harus diakui bahwa itu adalah suatu luka karena panasnya api.

Bila cara pandang kita terhadap masalah ini seperti cara pandang sang reporter, tentu saja kita akan mengutuk tindakan si guru. Namun bila kita memandang hal tersebut sebagai bentuk kreatifitas guru dalam mengajar, maka tentu hal tersebut menjadi terasa sangat berbeda. mungkin kita akan berteriak geram, "Tapi kan akibatnya ada, pipi siswanya terbakar!"

Iya benar, memang ada kondisi yang seperti itu, namun hal itu adalah suatu resiko bukan tindak kekerasan dalam dunia pendidikan karena tujuan Bu Guru Rosmida ini jelas dan tampaknya cukup terukur karena dilakukan kepada beberapa orang. Sayangnya, ada salah satu diantara beberapa sampel tersebut yang gagal dan siswa tersebut mengalami luka karena hal tersebut. Bu Guru ini sebenarnya tengah mengajar dengan metode pendekatan praktek bukan sekedar teori, mendekatkam siswa dengan ranah kenyataan sehingga imajinasi ataupun kesadaran siswa sebagai tujuan utama subjek pelajaran bisa tercapai. Memang ada kegagalan, namun bukankah segala hal memiliki resiko, yang lagi-lagi sayangnya, pendidikan resiko belum menjadi pola pendidikan yang membumi dalam sistem pendidikan di negeri tercinta ini.

Hal ini tentu harus dipertimbangkan sebagai sebuah wacana lain kepada pemirsa bukan hanya satu sudut pandang yaitu kekerasan dalam dunia pendidikan. Menurut seorang raja media dunia, Pitt Murdoch, media itu tidak sama dengan industri dan hal itu tentu membawa suatu tanggung jawab yang besar. Salah satu tanggung jawab itu adalah pencerahan dan pendidikan kesemestaan. Sayangnya banyak media massa di Indonesia yang masih juga belum memahami bentuk tanggung jawab ini, sehingga penggiringan asumsi publik tidak dilakukan sebagai wacana kependidikan tapi cenderung sebagai daya pikat media semata. Media berlomba-lomba menyajikan berita dan acara yang memikat tapi fungsi edukasi yang seharusnya menjadi ruh utama media malah cenderung dilupakan. Bukankah pemberitaan yang berimbang yang jauh dari justifikasi adalah nilai dasar suatu media.




kata hati seorang rakyat yang berharap
semua komponen bangsa menyadari tanggung jawab
tuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa

Uun Nurcahyanti

 
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net